Jumat, 02 November 2012

Kiamat menurut Fisika




Apa yanga akan kau bayangkan jika kau mendengar kata “kiamat” ?

Pasti ada yang membayangkan sebuah kehancuran dan kemusnahan yang massal.

Kata kiamat bukanlah kata yang asing lagi bagi kita. Terkadang kita pun seolah-olah pernah mengalaminya, misalkan saat anda lupa membawa buku PR anda sedangkan hari itu juga harus dikumpul ditambah dengan jarak rumah anda yang tidak memungkinkan anda untuk kembali plus guru yang memberikan PR tersebut termasuk guru yang paling killer yang pernah anda kenal, pasti anda akan mengucapkan, “kiamat gue”.

Nah cerita kecil di atas menandakan betapa kata-kata kiamat bukanlah kata yang asing atau kata yang masih tabu untuk kita kenal.

Berikut ini saya akan memaparkan sedikit pengetahuan saya tentang kiamat terutama dalam sudut pandang fisika.

Kiamat dapat disebabkan dari banyak faktor, sebuah teori yang dikenal istilahnya red giant. Teori ini menyatakan, bintang yang memiliki massa lebih besar dari Matahari, saat proses fusi terhenti akan terjadi dorongan gravitasi ke dalam massa bintang (tarikan gravitasi ke arah pusat bintang). 

Karena inti bintang mendapat tekanan yang tinggi dari luar maka inti memberikan reaksi keluar sehingga ukuran bintang menjadi sangat besar dan berwarna merah (red giant). Pada tahap ini bintang akan mengembang menjadi ukuran raksasa, sementara di bagian dalamnya, pusat bintang akan menghasilkan gravitasi dan memulai terjadinya pengerutan. Saat mengerut pusat bintang menjadi lebih panas dan rapat. Pada titik ini, sejumlah reaksi nuklir mulai terjadi dan bisa menghentikan keruntuhan pusat bintang untuk sementara. Perlu diingat, hanya Sementara. 

Saat di pusat bintang hanya tersisa besi, maka tak ada lagi pembakaran. Saat fusi tak lagi terjadi, dalam hitungan detik, bintang memulai fasa akhirnya yakni keruntuhan gravitasi. Temperatur di pusat bintang naik melebihi 100 miliar derajat, kemudian pusat bintang mengalami tekanan dan mengecil namun kemudian mengembang menjadi super raksasa (supergiant) secara tiba-tiba. 

Energi pengembangan ini ditransfer ke selubung bintang, yang kemudian memicu terjadinya ledakan dengan kekuatan maha dahsyat serta memancarkan cahaya yang sangat besar dan terang yang disebut sebagai Supernova.

Dengan kata lain, bintang yang menjadi supergiant bersifat tidak stabil, sehingga lebur dan hancur berkeping-keping dalam satu ledakan Supernova. Tetapi tidak semua bintang mati mengalami Supernova. Sekali lagi, hal ini tergantung dari besarnya massa bintang itu sendiri.

Setelah menjadi Supernova, semua materi yang tersisa segera menyusut, bahkan yang sangat besarpun akan menyusut sampai lenyap. Sisanya adalah ruangan kecil dengan gravitasi yang sangat besar. Bagian ini akan menyedot semua material yang ada didekatnya bahkan cahayapun tak kan mampu lolos dari gravitasinya. Inilah yang disebut sebagai lubang hitam. Semakin banyak materi yang terhisap, semakin besar massa lubang hitam dan semakin besar pula gravitasinya.

Sedangkan bintang kecil yang meledak sebagai Supernova tidak mengakhiri hidupnya menjadi lubang hitam karena tekanan gravitasinya tidak mencukupi untuk melampaui kekuatan atom dan nuklir dalam dirinya yang sifatnya melawan tekanan gravitasi. Sehingga bintang tersebut mati menjadi bintang kecil atau pulsar.

Matahari tidak akan mati menjadi lubang hitam karena massanya tidak mampu untuk melakukan proses yang tersebut diatas. Matahari hanya akan berakhir menjadi “bintang kerdil putih” setelah melalui tahap sebagai red giant.

Seandainya Matahari mati menjadi lubang hitam, maka orbit planet-planet dalam tata surya tidak akan berubah karena massa lubang hitam dari Matahari tetap 1 massa matahari. Orbit planet dipengaruhi oleh massa bintang bukan pada bagaimana si massa ini berevolusi dalam bentuk bola raksasa atau sebuah bola tenis. Tetapi tentu saja temperatur di Bumi akan berubah dan kehidupan di Bumi akan menjadi gelap karena tidak ada sumber sinar.

Planet-planet yang mengorbit lubang hitam juga tidak akan terhisap ke dalam lubang hitam karena semakin jauh sebuah obyek maka pengaruh dari gravitasi yang menariknya akan semaki kecil. Dan seandainya Matahari jadi lubang hitam, horizonnya hanya 3 km, dan itu berarti semua planet yang memang berada di luar jarak 3 km itu akan baik-baik saja. Jarak Merkurius saja hampir  60 juta km dari Matahari.

Tapi perlu diingat juga Matahari akan melalui masa dimana ia akan menjadi raksasa merah dan pada saat itu planet-planet seperti Merkurius, Venus dan Bumi sudah ditelan oleh Matahari yang mengembang tersebut.

Nah itu kiamat menurut teori Red Giant. Matahari akan membesar dan terus mengembang hingga mengalami proses supernova dandapat menarik atau “menelan” planet-planet yang berada disekitarnya, termasuk bumi.

Sekian dulu ya dari saya, kita akan bertemu lagi di halaman-halaman berikutnya dengan informasi lainnya.


sumber :
Philip Brooks, 2000, Questions and Answers Stars and Planets, Kingfisher Publications Plc
Jane Walker, 1996, The Solar System, Aladdin Books Ltd
http://netsains.net/2012/04/asal-muasal-terjadinya-lubang-hitam/

sumber gambar :
http://www.profiledesigninc.com/images/OMOS-SO/Reach4theStars/Red-Giant.JPG



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar