Minggu, 13 November 2016

JENIS, MANFAAT DAN DAMPAK PENAMBANGAN BATUBARA




BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                   
1. Latar Belakang Masalah
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan yang telah mati dan terbentuk melalui proses biokimia dan geokimia selama puluhan tahun. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Negara Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai hasil tambang batubara terbesar di dunia. Lokasi Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi, yakni  lempeng Benua Eurasia, lempeng Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu struktur geologi yang memiliki kekayaan  potensi pertambangan yang telah diakui di dunia. Berdasarkan data yang dirilis oleh BP yang berjudul BP Statistical Review of World Energy edisi ke-64 tahun 2015, Indonesia menempati urutan ke-3 yang menghasilkan batubara sebanyak 281,7 juta ton pada tahun 2014. Cadangan batubara yang dimiliki Indonesia adalah sebanyak 28.017 juta ton. 
Cadangan batubara ini masih sangat berlimpah dan memiliki potensi untuk dijadikan alternatif bahan bakar. Akan tetapi, banyak orang yang tidak tahu cara pengolahan batubara yang benar. Kurangnya sosialisasi tentang pengelolaan tambang dengan baik, menyebabkan banyak dampak buruk yang dihasilkan. Walaupun sekarang tidak terlalu terasa, namun beberapa tahun lagi dampak pengelolaan tambang yang salah bisa mengganggu stabilitas ekosistem. Oleh karena itu perlunya usaha-usaha yang dilakukan dari sekarang untuk mengatasi pengelolaan tambang yang salah. Mulai dari sosialisasi sampai tindakan nyata. Sehingga diharap keseimbangan alam akan terjaga.

2. Rumusan Masalah
2.1. Jelaskan materi pembentukan jenis-jenis batubara !
2.2. Jelaskan cara pembentukan batubara !
2.3. Jelaskan jenis-jenis batubara !
2.4. Bagaimanakah pemanfaatan batubara ?
2.5. Apa dampak penambangan batubara terhadap lingkungan ?
2.6. Apa saja usaha-usaha yang dapat mengurangi dampak pertambangan?



BAB II
PEMBAHASAN
1. Materi Pembentukan Batubara

Istilah batubara merupakan hasil terjemahan dari “coal”. Disebut batubara mungkin karena dapat terbakar seperti halnya arang kayu. Defenisi dari batubara itu sendiri menurut Muchjidin (2005).“Batubara adalah batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen dan mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain, yaitu senyawa organik pembentuk “ash” tersebar sebagai partikel zat mineral dan terpisah-pisah di seluruh senyawa batubara. Beberapa jenis batu meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan, tetapi meninggalkan residu yang disebut kokas. Batubara dapat dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan bakar cair atau dihidrogenisasikan untuk membuat metan. Gas sintetis atau bahan bakar berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap”.

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan  batu bara dari perioda ini.

Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.

Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.

Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.

Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

2. Cara Pembentukan Batubara

Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Ketiga konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara yang mencakup beberpa proses, yaitu :
1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.

2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.

3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H20) clan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), clan metana (CH4). 

4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.

5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

Secara ringkas proses ini dibagi menjadi dua tahap proses yang terjadi, antara lain:

1. Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.

2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

Tempat terbentuknya batubara dijelaskan dengan 2 (dua) macam teori:

Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara, terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentukdengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relative kecil. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara Muara Enim (Sumatera Selatan).

Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkebang. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan berakumulasi di suatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas, tetapi dijumpai di beberapa tempat, kualitas kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara delta Mahakam purba, Kalimantan Timur. 

3. Jenis-jenis Batubara

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut. Kandungan karbon batubara merupakan penentu utama dari panas yang dihasilkan, tetapi faktor lain juga mempengaruhi jumlah energi yang terkandung per bobotnya. (Jumlah energi dalam batubara dinyatakan dalam British thermal unit per pon. BTU adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu pon air sebesar satu derajat Fahrenheit.)
1. Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%. Nilai panas yang dihasilakan hampir 15.000 BTU per pon. Biasanya digunakan untuk proses sintering bijih mineral, proses pembuatan elektroda listrik, pembakaran batu gamping, dan untuk pembuatan briket tanpa asap. Paling sering digunakan pada alat pemanas rumah.

2. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya dan nilai panas 10.500 sampai 15.500 BTU per pon. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia. Batubara ini masih dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. batubara ketel uap atau batubara termal atau yang disebut steam coal, banyak digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik, pembakaran umum seperti pada industri bata atau genteng, dan industri semen
b. batubara metalurgi (metallurgical coal atau coking coal) digunakan untuk keperluan industri besi dan baja serta industri kimia.

3. Bitumen digunakan terutama untuk menghasilkan listrik dan membuat kokas di industri baja. Pasar batubara yang tumbuh paling cepat untuk jenis ini, meskipun masih kecil, adalah yang memasok energi untuk proses industri.

4. Sub-bituminus mengandung 35 - 45% dan nilai panas antara 8.300 hingga 13.000 BTU per pon. Meskipun nilai panasnya lebih rendah, batubara ini umumnya memiliki kandungan belerang yang lebih rendah daripada jenis lainnya, yang membuatnya disukai untuk dipakai karena hasil pembakarannya yang lebih bersih. Tetapi mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

5. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya dan nilai panas berkisar antara 4.000 dan 8.300 BTU per pon. Kadang-kadang disebut brown coal, jenis ini umumnya digunakan untuk pembangkit tenaga listrik.

6. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.




4. Pemanfaatan Batubara

Pemanfaatan batubara di dalam negeri digunakan sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping, genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel. Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. 

Pemakaian batubara terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, disusul oleh industri aemen yang secara keseluruhan telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi, briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya. Penggunaan batubara untuk PLTU pada tahun 1999 sebesar 26,9 juta ton, tahun 2004 sebesar 61,5 juta ton dan sampai tahun 2008 perkiraan pemakaian batubara mencapai 71,8 juta ton. Sedangkan produksi batubara Indonesia sampai tahun 2006 sebesar 160,4 juta ton, ekspor 120,8 juta ton dan pemakaian dalam negeri 35,95 juta ton dengan total produksi 156,75 juta ton.

Selain itu batubara juga dapat digunakan sebagai Bahan Bakar Minyak (BBM). Secara umum batubara Indonesia termasuk bahan bakar. Pengubahan batubara dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui pembuatan gas atau gasifikasi dan pencairan batubara atau liquifaksi (coal liquefaction). 

Pada proses gasifikasi semua gas organik dalam batubara diubah ke dalam bentuk gas terutama karbonmonoksida, karbondioksida dan hidrogen. Gas ini kemudian dapat diubah menjadi bahan-bahan kimia seperti pupuk dan metanol.

Proses liquifaksi tujuannya adalah mengubah batubara menjadi minyak. Penelitian oleh SASOL (perusahaan yang mengurusi pencairan batubara) di Afrika Selatan telah berhasil mengubah batubara menjadi minyak (Gasoline, Diesel, Jet Fuel ), gas maupun bahan kimia lainnya sehingga Afrika Selatan telah “survive” mengatasi masalah BBM 50 persen kebutuhan BBM Afrika dipasok dari Pabrik Pencairan Batubara sementara SASOL sendiri terdaftar di bursa efek Afrika Selatan dan New York. Produksi SASOL sekitar 150.000 barel/hari.

Pemerintah Indonesia pada tahun 2004 lalu telah mempunyai rencana untuk membangun pilot plant untuk program pencairan batubara di Cirebon (Jawa Barat). Maksud dari pilot plant ini adalah sebagai uji coba dan sekaligus untuk meyakinkan semua pihak bahwa program pencairan batubara ini dapat dilakukan. Teknologi yang akan digunakan adalah teknologi Improve Brown Coal Liquefaction (IBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. Sementara Jepang sendiri sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton/hari di Victoria, Australia.

Pada tahun 2002 pemerintah China telah mengambil keputusan penting, yaitu tidak akan menggantungkan diri pada impor minyak mentah. Sebagai pengganti impor minyak mentah, pemerintah China membuat program pencairan batubara. Untuk mewujudkan program ini perusahaan terbesar di China Shen Hua Group menggandeng perusahaan Amerika Headwaters Technology Innovation (HTI) untuk pencairan batubara secara langsung melalui teknologi yang dikembangkan oleh HTI.

5. Dampak Penambangan Batubara Terhadap Lingkungan

Seperti yang diketahui, pertambangan batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah, baik itu air, tanah, udara, dan hutan.

a. Air
Penambangan batubara secara langsung menyebabkan pencemaran air, yaitu dari limbah pencucian batubara tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi keruh, asam, dan menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan pencucian batubara tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang (b), merkuri (Hg), asam slarida (HCn), mangan (Mn), asam sulfat (H2SO4), dan timbal (Pb). Hg dan Pb merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

b. Tanah
Tidak hanya air yang tercemar, tanah juga mengalami pencemaran akibat pertambangan batubara ini, yaitu terdapatnya lubang-lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali yang menyebabkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Air kubangan tersebut mengadung zat kimia seperti Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Fe dan Mn dalam jumlah banyak bersifat racun bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik. SO4 berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah dan PH tanah, akibat pencemaran tanah tersebut maka tumbuhan yang ada diatasnya akan mati.

c. Udara
Penambangan batubara menyebabkan polusi udara, hal ini diakibatkan dari pembakaran batubara. Menghasilkan gas nitrogen oksida yang terlihat cokelat dan juga sebagai polusi yang membentuk acid rain (hujan asam) dan ground level ozone, yaitu tipe lain dari polusi yang dapat membuat kotor udara. Selain itu debu-debu hasil pengangkatan batubara juga sangat berbahaya bagi kesehatan, yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan (ISPA), dan dalam jangka panjang jika udara tersebut terus dihirup akan menyebabkan kanker, dan kemungkinan bayi lahir cacat.

d. Hutan
Penambangan batubara dapat menghancurkan sumber-sumber kehidupan rakyat karena lahan pertanian yaitu hutan dan lahan-lahan sudah dibebaskan oleh perusahaan. Hal ini disebabkan adanya perluasan tambang sehingga mempersempit lahan usaha masyarakat, akibat perluasan ini juga bisa menyebabkan terjadinya banjir karena hutan di wilayah hulu yang semestinya menjadi daerah resapan aitr telah dibabat habis. Hal ini diperparah oleh buruknya tata drainase dan rusaknya kawan hilir seperti hutan rawa.

e. Laut
Pencemaran air laut akibat penambangan batubara terjadi pada saat aktivitas bongkar muat dan tongkang angkut batubara. Selain itu, pencemaran juga dapat mengganggu kehidupan hutan mangrove dan biota yang ada di sekitar laut tersebut.

6. Usaha Mengurangi Dampak Pertambangan

Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pertambangan batubara adalah sebagai berikut :

1. Penghentian penggunaan jalan umum untuk aktivitas angkutan batubara mesti ada ketegasan pemerintah daerah untuk menyetop dan menindak tegas setiap penguasaha aktivitas pertambangan ilegal yang selama ini semakin menjamur dan penurunan terhadap dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang ditimbulkannya.

2. Tidak mengeluarkan perizinan baru agar tidak menambah semrawutnya pengelolaan sumber daya alam tambang batubara, saat ini hal yang paling mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan adalah dengan tidak mengeluarkan izin baru lagi. Sehingga memudahkan untuk melakukan monitoring terhadap pertambangan batubara yang ada.

3. Penghentian pertambangan batubara ilegal secara total, pemerintah harus melakukan penghentian pertambangan batubara ilegal secara tegas tanpa padang bulu dan transparan.

4. Penghentian bisnis yayasan dan koperasinya TNI – POLRI.

5. Evaluasi perizinan yang telah diberikan, dan lakukan audit lingkungan semua usaha pertambangan batubara.

6. Meninggikan standar kualitas pengelolaan lingkungan hidup dan komitmen untuk kelestarian lingkungan hidup.

7. Pelembagaan konflik untuk menyelesaikan persengketaan rakyat dengan perusahaan pertambangan agar tercapai solusi yang memuaskan berbagai pihak.

8. Menyusun kebijakan strategi pengelolaan sumber daya alam tambang.

9. Setiap perusahaan diwajibkan mereklamasi bekas-bekas penambangan dan menjamin serta memastikan hasil reklamasi tersebut sesuai AMDAL. Dan pihak pemerintah harus mengawasi jalannya proses reklamasi tersebut, sehingga benar-benar yakin kalau proses reklamasi berjalan dengan baik dan menampakkan hasil.

10. Menggunakan alat-alat penambangan dengan berteknologi tinggi sehingga meminimalisasi dampak lingkungan serta memperkecil angka kecelakaan dalam pertambangan batubara tersebut.


BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Batubara adalah bahan galian yang terbentuk dari sisa tumbuhan sebagai bahan bakar. Materi pembentuk Batubara adalah Alga, Silofita, Pteridofita, Gimnospermae, dan Angiospermae. Kelas dan Jenis batubara yaitu :
1. Antrasit
2. Bituminus
3. Sub bituminus
4. Lignit
5. Gambut.

Pembentukan batubara dapat terjadi secara diagnetik atau biokimia dan tahap malihan atau geokimia. Sumber daya batubara di Indonesia jumlahnya sangat melimpah seperti di Kalimantan Selatan yang cukup untuk pasokan energi beberapa tahun kedepan.

Dampak penambangan batubara adalah kerusakan terhadap lingkungan yaitu air, udara, tanah, hutan dan laut. Usaha mengurangi dampak pertambangan bisa di upayakan oleh pemerintah maupun pihak perusahaan.

2. Saran

Agar pemerintah lebih mengoptimalkan dan mensosialisasikan tentang AMDAL, sehingga para penambang lebih memperhatikan dampak lingkungan dari pada keuntungan semata. Diharap juga pemerintah lebih tegas menindak para penambang yang terbukti melanggar peraturan penambangan agar para penambang terutama perusahaan-perusahaan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan sehingga dapat meminimalkan dampak lingkungan dan resiko kecelakaan. Diharap dengan penambang yang bertanggung jawab terhadap reklamasi lahan bekas penambangan, sehingga pada akhirnya tidak mengganggu keseimbangan lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

Probowati,Dyah. 2008. Batubara.Yogyakarta : PT Citra Aji Parama.
http://www.anneahira.com/manfaat-batu-bara.htm. Manfaat   Batubara, diakses tanggal 17 Desember 2013.
http://maslatip.blogspot.com/2012/05/batubara-dan-manfaatnya.html. Batubara dan   Manfaatnya, diakses tanggal 17 Desember 2013.
http://karyakuadelia.blogspot.co.id/p/makalah.html. Pengolahan Batubara dan Manfaatnya, diakses pada 13 November 2016.
http://sulunshare.blogspot.co.id/2010/11/makalah-batu-bara.html. Makalah Batubara, diakses pada 13 November 2016.
http://abdoelstar.blogspot.co.id/2011/12/makalah-batubara.html. Makalah Batubara, diakses pada 13 November 2016.
http://www.indoenergi.com/2012/03/jenis-jenis-batubara.html. Jenis-jenis Batubara, diakses pada 13 November 2016.
https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara. Batubara, diakses pada 13 November 2016.
http://belajar-eka.blogspot.co.id/2014/03/contoh-makalah-batubara.html. Contoh Makalah Batubara, diakses pada 13 November 2016.
http://blogsiantar4all.blogspot.co.id/2013/05/makalah-batubara.html. Makalah Batubara, diakses pada 13 November 2016.
http://ilmupengetahuanumum.com/10-negara-penghasil-batu-bara-terbesar-di-dunia/. 10 Negara Penghasil Batubara Terbesar Didunia, diakses pada 13 November 2016.




Minggu, 29 September 2013

Makalah Analisis Konsep


Analisis Konsep

. Konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan dan aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Analisis adalah proses mengurai konsep ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, sedemikian rupa sehingga struktur logisnya menjadi jelas. Konsep yang bisa dianalisis atau didefinisikan adalah konsep yang kompleks, seperti kata “kuda”. Kuda disebut kompleks karena terdiri dari beberapa unsur properties, misalnya, kepala, badan, kaki dan lain-lain serta unsur sifat, misalnya, meringkik. Kalau konsepnya sederhana, maka tidak bisa diurai ke dalam bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Tentang konsep yang dianalisis harus kompleks supaya bisa didefinisikan.
Ketika kita menganalisis suatu konsep atau kata yang kita lakukan adalah: (1) menguraikan unsur-unsurnya; dan (2) melihat hubungan unsur-unsur itu. Apa hubungan analisis dan definisi? Ketika melakukan analisis kita juga membuat definisi. Analisis adalah satu cara membuat definisi yang menuntut pemikiran filosofis. Cara lain membuat definisi adalah dengan melihat kamus atau definisi leksikal. Kita bisa juga membuat definisi dengan cara menunjuk, memperlihatkan atau mendemonstrasikan sesuatu yang kita definisikan dengan menunjuk pakai telunjuk ke objeknya, misalnya disebut definisi ostensif. Kemudian ada definisi dalam penggunaan atau dapat menggunakan kata dalam bahasa yang benar..
Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Teknik-teknik semacam ini telah dikembangkan oleh Klausmeier, Ghatala, dan Frayer (1974), dan oleh Markle dan Tiemann (1970), dan oleh beberapa orang lainnya. Walaupun prosedur-prosedur itu mempunyai beberapa perbedaan, beberapa langkah dimiliki oleh semua prosedur itu.
Untuk melakukan analisis konsep, guru hendaknya memperhatikan hal-hal dibawah ini ;
a.    Nama Konsep
Orang dapat membentuk konsep-konsep tanpa memberi nama pada konsep-konsep itu, terutama pada tingkat konkret dan tingkat identitas. Anak-anak yang masih kecil menyusun kata-kata mereka sendiri untuk menyajikan konsep-konsep yang mereka bentuk. Tetapi, sesudah mereka masuk sekolah, mereka diberi pelajaran tentang nama-nama konsep yang telah diterima secara luas. Dengan menyetujui nama untuk suatu konsep orang dapat berkomunikasi tentang konsep itu.

b.    Atribut-atribut Kritis dan Atribut-atribut Variabel dari Konsep
Atribut-atribut kritis dari suatu konsep adalah ciri-ciri konsep yang perlu untuk membedakan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh, dan untuk menentukan apakah suatu objek baru merupakan suatu contoh dari konsep. Walaupun semua atribut-atribut dari suatu konsep tidak diajarkan pada setiap tingkat pencapaian, guru hendaknya menyadari hal ini untuk memastikan, bahwa contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh selalu dibedakan.
Atribut-atribut variabel konsep ialah ciri-ciri yang mungkin berbeda diantara contoh-contoh tanpa mempengaruhi inklusi dalam kategori konsep itu. Guru dapat mengubah-ubah atribut-atribut ini dalam contoh-contoh yang digunakan dalam mengajar.

c.    Definisi Konsep
Walaupun para siswa tidak diharapkan untuk belajar definisi formal dari suatu konsep, analisis konsep harus memasukkan definisi, sekalipun anak-anak pada tingkat konkret  dan tingkat identitas pada umumnya tidak diharapkan untuk dapat mendefinisikan konsep. Pada tingkat klasifikatori siswa mungkin dapat menyebutkan sebagian dari atribut-atribut, tetapi tidak semuanya, dan pada umumnya hanya yang mencolok (predominant). Pada tingkat formal siswa dapat belajar konsep melalui definisi yang diberikan. Kemampuan untuk menyatakan suatu definisi dari suatu konsep dapat digunakan sebagai suatu kriteria bahwa siswa telah belajar konsep itu.

d.    Contoh-contoh dan Noncontoh-noncontoh dari Konsep
Dengan membuat daftar dari atribut-atribut dari suatu konsep, pengembangan konsep-konsep dan nonkonsep-nonkonsep dapat diperlancar. Klausmeier, Rosmiller, dan Sally (dalam Rosser,1985) menyarankan agar paling sedikit harus dikembangkan satu himpunan rasional tentang contoh-contoh.

e.    Hubungan Konsep dengan Konsep-konsep Lain
Hubungan konsep dengan konsep-konsep lain : superordinat, koordinat, dan subordinat. Untuk sebagian besar konsep-konsep, kita dapat mengembangkan suatu hierarki dari konsep-konsep yang berhubungan yang memperlihatkan bagaimana suatu konsep terkait pada konsep-konsep yang lain. Pembentukan suatu hierarki dapat menolong dalam mengajar. Jika siswa telah mencapai suatu konsep superordinat; pelajaran dapat terdiri atas penambahan atribut-atribut kriteria bagi konsep yang akan dipelajari. Definisi 2 dalam analisis konsep merupakan suatu contoh dari prosedur ini; dianggap bahwa siswa telah mengetahui definisi poligon. Jika siswa belum mempelajari konsep-konsep superordinat, suatu definisi yang memberikan atribut-atribut kriteria akan lebih baik. Agar bermakna, setiap atribut hendaknya didefinisikan.
Konsep-konsep koordinat memberikan informasi tentang konsep-konsep yang berhubungan yang perlu dibedakan, apakah sebelum atau sesudah konsep itu dipelajari.
Guru-guru mungkin tidak melakukan analisis formal untuk setiap konsep yang diajarkannya, walaupun dianjurkan untuk melakukannya. Beberapa analisis konsep-konsep diperlukan untuk dapat memusatkan dan merencanakan pelajaran. Bila tujuan pelajaran ialah agar para siswa dapat membedakan contoh-contoh dari noncontoh-noncontoh, analisis konsep akan menyediakan gambaran-gambaran. Bila tujuan pelajaran ialah untuk dapat mendaftarkan atribut-atribut kriteria, kriteria ini terdapat dalam analisis. Dengan memberikan konsep-konsep yang berhubungan, seperti dalam hierarki, dapat memperlancar pengajaran yang akan datang maupun pengajaran yang sekarang.

No
Konsep
Atribut
Posisi
Contoh
Non
contoh
Label
Jenis
Defenisi
Kritis
Variabel
Super
ordinat
Koor-dinat
Sub
ordinat
1
Temperatur
Abstrak
Derajat panas dingin-nya suatu benda

Kalor, pemu-aian
Kerja
Energi, kalor
Volu-me, tekan-an
Kecepatan partikel
Suhu tubuh
Peruba-han wujud
Contoh menganalisis konsep dalam konsep-konsep fisika :

Topik                     :    Suhu dan Kalor
Jenjang                  :    SMA
Kelas/Semester    :    X / Satu

Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Menganalisis Konsep
1. Konsep yang hadir tanpa masalah
Konsep yang hadir tanpa masalah merupakan konsep dengan kejadian yang jelas. Artinya konsep tersebut memiliki atribut yang jelas, contoh dan non contoh yang mudah dipahami dan adanya kejelasan relefansi dengan konsep yang lain.
2. Konsep dengan kejadian yang tidak jelas
            Berbagai kesulitan muncul ketika kita menganalisis konsep ynag kejadiannya tidak jelas. Misalnya, atom, alam semesta dan tahun cahaya. Kesulitan dihadapi ketika akan nenentukan contoh dan non contoh (contoh dan non contohnya tidak jelas). 
        Tujuan utama analisa konsep adalah untuk menetahui permasalahan yang dihadapi siswa dalam memahami suatu konsep dan menentukan strategi pembelajaran yang sesuai untuk pengajaran konsep tersebut. Hal ini berarti bahwa ketika seorang guru akan mengajarkan konsep dengan kejadian yang tidak jelas maka ia harus mengetahui letak permasalahan yang ditimbulkan misalnya, tidak jelasnya contoh dan non contohnya. Dalam menganalisis konsep dengan kejadian yang tidak jelas, perlu diperhatikan adanya ilustrasi yang dapat menggambarkan kejadian dan dapat menjadi pengganti contoh dan non contoh dari konsep tersebut.
3. Konsep dengan atribut kritis yang tidak jelas
        ada banyak konsep yang mempunyai kejadian yang jelas tetapi tidak memiliki  atribut kritis yang jelas. Misalnya Unsur dan campuran.
4. Contoh yang memerlukan prinsip
5. Konsep dengan penyajian simbolis
            Lambang fisika merupakan konsep dengan penyajian simbolis. Masalah yang dapat digambarkan dari konsep seperti itu misalnya apakah pemahaman siswa hanya sekedar pemahaman kata ataumenerima contoh dan non contoh.
6. Konsep yang menyebutkan  proses
Penyulingan, peleburan, dan elektrolisis merupakan contoh konsep yang disertai proses
7.  Konsep yang menyebutkan atribut dan kekayaan
konsep yang seperti misalnya massa., berat beban, muatan elektrit, dan frekuensi.
8.  Konsep yang menguraikan atribut
massa merupakan contoh konsep tersebut. Sebagai contoh ton, kiligram dan gram merupakan ukuran berat/ massa. Seseorang akan berasumsi bahwa siswa memahami konsep jika ia mengetahui defenisi dan ukurannya. Bagaimanapun sebagian dari konsep ini sulit untuk diphami dan suatu analisa konsep menggambarakan apa yang harus dipahami oleh siswa tersebut


Makalah Literasi Sains


Literasi Sains
Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif, dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA.
PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia (Witte, 2003). Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis
Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sain
Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains,yaitu:
a. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
b. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.   
c. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.    
d. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
e. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.
Pengukuran Literacy Science
PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengi-denifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti             yang     ada.                 
Pendekatan Keterampilan Proses
·        Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14)
Suatu prinsip untuk memilih pendekatan pembelajaran ialah belajar melalui proses mengalami secara langsung untuk memperoleh hasil belajar yang bermakna. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Siswa diharapkan termotivasi dan senang melakukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna bagi dirinya. Hal ini berarti bahwa peranan pendekatan belajar mengajar sangat penting dalam kaitannnya dengan keberhasilan belajar. Kurikulum 2004 telah menegaskan bahwa penerapan pendekatan dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri siswa supaya mampu menemukan dan mengelola perolehannya. Pendekatan ini disebut pendekatan proses. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan ini mengacu kepada siswa agar belajar berorientasi pada belajar bagaimana belajar.
Beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar yaitu :
a.    Perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung begitu cepat sehingga tidak mungkin lagi seorang guru memberikan semua fakta dan konsep kepada siswa.
b.    Pada prinsipnya anak mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk belajar. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu.
c.    Semua konsep yang telah ditemukan melalui penyelidikan ilmiah tidak bersifat mutlak sehingga masih terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan diperbaiki.
d.    Adanya sikap dan nilai-nilai yang perlu dikembangkan.
(Conny Semiawan, 1992: 14)
·        Rincian Keterampilan Proses
Keterampilan proses dasar merupakan suatu fondasi untuk melatih keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Seluruh keterampilan proses ini diperlukan pada saat berupaya untuk mencatatkan masalah ilmiah. Keterampilan proses terpadu khususnya diperlukan saat melakukan eksperimen untuk memecahkan masalah.
1.      Pengamatan
Pengamatan merupakan salah satu keterampilan proses dasar.Keterampilan   menggunakan lima indera yaitu penglihatan, pembau, peraba, pengecap dan pendengar. Apabila siswa mendapatkan kemampuan melakukan pengamatan  dengan menggunakan beberapa indera, maka kesadaran dan kepekaan mereka terhadap segala hal disekitarnya akan berkembang, pengamatan yang dilakukan hanya menggunakan indera disebut  pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur disebut pengamatan kuantitatif. Melatih keterampilan pengamatan termasuk melatih siswa mengidentifikasi indera mana yang tepat digunakan untuk melakukan pengamatan suatu objek.

2.      Klasifikasi  
Klaslifikasi adalah proses yang digunakan ilmuwan untuk mengadakan penyusunan atau pengelompokkan atas objek-objek atau kejadian-kejadian. Keterampilan klasifikasi dapat dikuasai bila siswa telah dapat melakukan dua keterampilan berikut ini.
a.       Mengidentifikasi dan memberi nama sifat-sifat yanng dapat diamati dari   sekelompok objek yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasi.
b.      Menyusun klasifikasi dalam tingkat-tingkat tertentu sesuai dengan sifat-sifat objek
Klasifikasi berguna untuk melatih siswa menunjukkan persamaan, perbedaan dan hubungan timbal baliknya.


3.      Inferensi
Inferensi adalah sebuah pernyataan yang dibuat berdasarkan fakta hasil pengamatan. Hasil inferensi dikemukakan sebagai pendapat seseorang terhadap sesuatu yang diamatinya. Pola pembelajaran untuk melatih keterampilan proses inferensi, sebaiknya menggunakan  teori belajar konstruktivisme, sehingga siswa belajar merumuskan sendiri inferensinya.

4.      Prediksi
Prediksi adalah ramalan tentang kejadian yang dapat diamati diwaktu yang akan datang. Prediksi didasarkan pada observasi yang cermat  dan inferensi tentang hubungan antara beberapa kejadian yang telah diobservasi. Perbedaan inferensi dan prediksi yaitu : Inferensi harus didukung oleh fakta hasil observasi, sedangkan prediksi dilakukan dengan meramalkan apa yang akan terjadi kemudian berdasarkan data pada saat pengamatan dilakukan.

5.      Komunikasi
Komunikasi didalam keterampilan proses berarti menyampaikan pendapat hasil keterampilan proses lainnya baik secara lisan maupun tulisan.  Dalam tulisan bisa berbentuk rangkuman, grafik, tabel, gambar, poster dan sebagainya. Keterampilan berkomunikasi ini sebaiknya selalu dicoba di kelas, agar siswa terbiasa mengemukakan pendapat dan berani tampil di depan umum.

6.      Identifikasi Variabel
Variabel adalah satuan besaran kualitatif atau kuantitatif yang dapat bervariasi atau berubah pada suatu situasi tertentu.  Besaran kualitatif adalah besaran yang tidak dinyatakan dalam satuan pengukuran baku tertentu.  Besaran kuantitatif  adalah besaran yang dinyatakan dalam satuan pengukuran baku tertentu misalnya volume diukur dalam liter dan suhu diukur dalam derajat Celcius. Keterampilan identifikasi variabel dapat diukur berdasarkan tiga tujuan
pembelajaran berikut.
a.       Mengidentifikasi variabel dari suatu pernyataan tertulis atau dari deskripsi suatu eksperimen.
b.      Mengidentifikasi variabel manipulasi dan variabel respon dari deskripsi suatu eksperimen.
c.       Mengidentifikasi variabel kontrol dari suatu pernyataan tertulis atau deskripsi suatu eksperimen.

Dalam suatu eksperimen terdapat tiga macam variabel yang sama pentingnya, yaitu variabel manipulasi, variabel respon dan variabel kontrol.
         Variabel manipulasi adalah suatu variabel yang secara sengaja diubah atau dimanipulasi dalam suatu situasi.
         Variabel respon adalah variabel yang berubah sebagai hasil akibat dari kegiatan manipulasi.
         Variabel kontrol  adalah variabel yang sengaja dipertahankan konstan agar tidak berpengaruh terhadap variabel respon.

7.      Definisi Variabel Secara Operasional
Mendefinisikan secara operasional suatu variabel berarti menetapkan bagaimana suatu variabel itu diukur. Definisi operasional variabel adalah definisi yang menguraikan bagaimana mengukur suatu variabel. Definisi ini harus menyatakan tindakan apa yang akan dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat dari suatu eksperimen. Keterampilan ini merupakan komponen  keterampilan proses yang paling sulit dilatihkan karena itu harus sering di ulang-ulang.

8.      Hipotesis
Hipotesis biasanya dibuat pada suatu perencanaan penelitian yang merupakan pekerjaan tentang pengaruh yang akan terjadi dari variabel manipulasi terdapat  variabel respon. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan bukan pertanyaan, pertanyaan biasanya digunakan dalam merumuskan masalah yang akan diteliti (Nur, 1996). Hipotesis dapat dirumuskan secara  induktif  dan secara  deduktif.  Perumusan secara induktif berdasarkan data pengamatan, secara deduktif berdasarkan teori. Hipotesis dapat juga dipandang sebagai jawaban sementara dari rumusan masalah.

9.      Interpretasi Data
Keterampilan interpretasi data biasanya diawali dengan pengumpulan data, analisis data, dan  mendeskripsikan data. Mendeskripsikan data artinya menyajikan data dalam bentuk yang mudah difahami misalnya bentuk tabel, grafik dengan angka-angka yang sudah dirata-ratakan. Data yang sudah dianalisis baru diiterpretasikan menjadi suatu kesimpulan atau dalam bentuk pernyataan. Data yang diinterpretasikan harus data yang membentuk pola atau beberapa kecenderungan.

10.  Eksperimen
Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variabel yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharapkan dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga penentuan kondisi-kondisi yang akan dikontrol sudah tepat. Untuk keberhasilan ini maka setiap eksperimen harus dirancang dulu kemudian di uji coba. Melatihkan merencanakan eksperimen tidak harus selalu dalam bentuk penelitian yang rumit, tetapi cukup dilatihkan dengan menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan konsep-konsep didalam GBPP, kecuali untuk melatih khusus siswa-siswa dalam kelompok tertentu. Contohnya Kelompok Ilmiah Remaja.

1.      Implikasi Keterampilan Proses dalam Proses Pembelajaran
Adapun implikasi yang timbul dari diterapkannya pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah (bagi siswa) :
a)             Memperoleh pengalaman melalui keterampilan proses sains seperti identifikasi, seleksi, dan pemecahan masalah nyata secara bermakna dan relevan dengan masalah-masalah yang ditemuinya.
b)         Mempelajari dan memperdalam konsep-konsep dasar dengan bermakna
c)         Memanipulasikan informasi yang diperoleh
d)         Mengembangkan keterampilan berpikir tinggi
e)         Mengembangkan metodologi dengan menggunakan perangkat penelitian
f) Menumbuhkan minat dan kepercayaan diri melalui Problem Solving
g)         Mempelajari bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dan diciptakan.
Sedangkan sikap guru seharusnya :
a)         Memfasilitasi minat siswa seluas mungkin
b)        Mengembangkan sistem kurikulum terpadu/interdisipliner
c)         Meresapkan keterampilan berpikir tinggi ke dalam kurikulum
d)        Menumbuhkan jiwa sosialisasi dan organisasi melalui pembentukan group-group kecil yang mandiri
e)         Menanamkan pemahaman akan keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, teknologi, dan sosial kemasyarakatan dengan memfokuskan perhatian pada masalah-masalah nyata dan relevan dengan masalah yang ditemuinya.
f)          Melibatkan siswa secara aktif selama belajar-mengajarnya.
g)         Memberi kredit kepada pertanyaan siswa
h)         Memberi kesempatan siswa untuk memilih dan menetapkan berbagai metodologi penelitiannya selama belajarnya.
i)           Memupuk keterampilan seperti proses, sosial, kepemimpinan, tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan komunikasi.
2.      Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Keterampilan Proses
Adapun peran guru dalam pendekatan keterampilan proses diantaranya
1.      Memfasilitasi kemungkinan pilihan area/bidang studi/kajian
2.      Menciptakan iklim yang mendukung
3.      Menciptakan situasi yang dapat memudahkan munculnya pertanyaan
4.      Menciptakan dan mengarahkan kegiatan brainstrorming
5.      Melakukan Record Keeping
6.      Menumbuhkan dan mempertahankan situasi dan kondisi lingkungan yang dihasilkan atas dasar interest siswa (Non-Judgmental)
7.      Membantu dalam pengelompokan dan penjelasan permasalahan yang muncul.
8.      Menyediakan petunjuk tentang keamanan dan waktu bekerja, dan sumber yang dapat digunakan.
9.      Mengajukan pertanyaan untuk membantu memperjelas observasi siswa, membantu memperjelas arah dan logika berpikir siswa.
10.  Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir
11.  Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide/pendapat/gagasan siswa tersebut.
12.  Menyediakan daftar ketentuan penggunaan alat dan teknik yang baru
13.  Membantu mengembangkan metode pengumpulan data, pencatatan, interpretasi, penayangan, dan penggunaan dari teknologi yang masih dianggap kompleks oleh siswa.
14.  Menyediakan petunjuk tentang keamanan dan waktu bekerja, dan sumber yang dapat digunakan.
15.  Mengajukan pertanyaan untuk membantu memperjelas observasi siswa, membantu memperjelas arah dan logika berpikir siswa.
16.  Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir
17.  Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide/pendapat/gagasan siswa tersebut.
18.  Menyediakan daftar ketentuan penggunaan alat dan teknik yang baru
19.  Membantu mengembangkan metode pengumpulan data, pencatatan, interpretasi, penayangan, dan penggunaan dari teknologi yang masih dianggap kompleks oleh siswa
20.  Mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi
21.  Mendefinisikan dan menetapkan informasi yang dipandang sesuai dengan audiens
22.  Menyediakan ketentuan dalam analisis data dan teknik penayangannya.
23.  Menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi
24.  Menekankan terciptanya situasi yang mendukung
25.  Memfasilitasi kemungkinan terjadinya interaksi antara presenter dengan audiens
26.  Membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil penemuan studi selama presentasi, baik secara lisan maupun tulisan.