Minggu, 29 September 2013

Makalah Analisis Konsep


Analisis Konsep

. Konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang relevan dan aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Analisis adalah proses mengurai konsep ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, sedemikian rupa sehingga struktur logisnya menjadi jelas. Konsep yang bisa dianalisis atau didefinisikan adalah konsep yang kompleks, seperti kata “kuda”. Kuda disebut kompleks karena terdiri dari beberapa unsur properties, misalnya, kepala, badan, kaki dan lain-lain serta unsur sifat, misalnya, meringkik. Kalau konsepnya sederhana, maka tidak bisa diurai ke dalam bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Tentang konsep yang dianalisis harus kompleks supaya bisa didefinisikan.
Ketika kita menganalisis suatu konsep atau kata yang kita lakukan adalah: (1) menguraikan unsur-unsurnya; dan (2) melihat hubungan unsur-unsur itu. Apa hubungan analisis dan definisi? Ketika melakukan analisis kita juga membuat definisi. Analisis adalah satu cara membuat definisi yang menuntut pemikiran filosofis. Cara lain membuat definisi adalah dengan melihat kamus atau definisi leksikal. Kita bisa juga membuat definisi dengan cara menunjuk, memperlihatkan atau mendemonstrasikan sesuatu yang kita definisikan dengan menunjuk pakai telunjuk ke objeknya, misalnya disebut definisi ostensif. Kemudian ada definisi dalam penggunaan atau dapat menggunakan kata dalam bahasa yang benar..
Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Teknik-teknik semacam ini telah dikembangkan oleh Klausmeier, Ghatala, dan Frayer (1974), dan oleh Markle dan Tiemann (1970), dan oleh beberapa orang lainnya. Walaupun prosedur-prosedur itu mempunyai beberapa perbedaan, beberapa langkah dimiliki oleh semua prosedur itu.
Untuk melakukan analisis konsep, guru hendaknya memperhatikan hal-hal dibawah ini ;
a.    Nama Konsep
Orang dapat membentuk konsep-konsep tanpa memberi nama pada konsep-konsep itu, terutama pada tingkat konkret dan tingkat identitas. Anak-anak yang masih kecil menyusun kata-kata mereka sendiri untuk menyajikan konsep-konsep yang mereka bentuk. Tetapi, sesudah mereka masuk sekolah, mereka diberi pelajaran tentang nama-nama konsep yang telah diterima secara luas. Dengan menyetujui nama untuk suatu konsep orang dapat berkomunikasi tentang konsep itu.

b.    Atribut-atribut Kritis dan Atribut-atribut Variabel dari Konsep
Atribut-atribut kritis dari suatu konsep adalah ciri-ciri konsep yang perlu untuk membedakan contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh, dan untuk menentukan apakah suatu objek baru merupakan suatu contoh dari konsep. Walaupun semua atribut-atribut dari suatu konsep tidak diajarkan pada setiap tingkat pencapaian, guru hendaknya menyadari hal ini untuk memastikan, bahwa contoh-contoh dan noncontoh-noncontoh selalu dibedakan.
Atribut-atribut variabel konsep ialah ciri-ciri yang mungkin berbeda diantara contoh-contoh tanpa mempengaruhi inklusi dalam kategori konsep itu. Guru dapat mengubah-ubah atribut-atribut ini dalam contoh-contoh yang digunakan dalam mengajar.

c.    Definisi Konsep
Walaupun para siswa tidak diharapkan untuk belajar definisi formal dari suatu konsep, analisis konsep harus memasukkan definisi, sekalipun anak-anak pada tingkat konkret  dan tingkat identitas pada umumnya tidak diharapkan untuk dapat mendefinisikan konsep. Pada tingkat klasifikatori siswa mungkin dapat menyebutkan sebagian dari atribut-atribut, tetapi tidak semuanya, dan pada umumnya hanya yang mencolok (predominant). Pada tingkat formal siswa dapat belajar konsep melalui definisi yang diberikan. Kemampuan untuk menyatakan suatu definisi dari suatu konsep dapat digunakan sebagai suatu kriteria bahwa siswa telah belajar konsep itu.

d.    Contoh-contoh dan Noncontoh-noncontoh dari Konsep
Dengan membuat daftar dari atribut-atribut dari suatu konsep, pengembangan konsep-konsep dan nonkonsep-nonkonsep dapat diperlancar. Klausmeier, Rosmiller, dan Sally (dalam Rosser,1985) menyarankan agar paling sedikit harus dikembangkan satu himpunan rasional tentang contoh-contoh.

e.    Hubungan Konsep dengan Konsep-konsep Lain
Hubungan konsep dengan konsep-konsep lain : superordinat, koordinat, dan subordinat. Untuk sebagian besar konsep-konsep, kita dapat mengembangkan suatu hierarki dari konsep-konsep yang berhubungan yang memperlihatkan bagaimana suatu konsep terkait pada konsep-konsep yang lain. Pembentukan suatu hierarki dapat menolong dalam mengajar. Jika siswa telah mencapai suatu konsep superordinat; pelajaran dapat terdiri atas penambahan atribut-atribut kriteria bagi konsep yang akan dipelajari. Definisi 2 dalam analisis konsep merupakan suatu contoh dari prosedur ini; dianggap bahwa siswa telah mengetahui definisi poligon. Jika siswa belum mempelajari konsep-konsep superordinat, suatu definisi yang memberikan atribut-atribut kriteria akan lebih baik. Agar bermakna, setiap atribut hendaknya didefinisikan.
Konsep-konsep koordinat memberikan informasi tentang konsep-konsep yang berhubungan yang perlu dibedakan, apakah sebelum atau sesudah konsep itu dipelajari.
Guru-guru mungkin tidak melakukan analisis formal untuk setiap konsep yang diajarkannya, walaupun dianjurkan untuk melakukannya. Beberapa analisis konsep-konsep diperlukan untuk dapat memusatkan dan merencanakan pelajaran. Bila tujuan pelajaran ialah agar para siswa dapat membedakan contoh-contoh dari noncontoh-noncontoh, analisis konsep akan menyediakan gambaran-gambaran. Bila tujuan pelajaran ialah untuk dapat mendaftarkan atribut-atribut kriteria, kriteria ini terdapat dalam analisis. Dengan memberikan konsep-konsep yang berhubungan, seperti dalam hierarki, dapat memperlancar pengajaran yang akan datang maupun pengajaran yang sekarang.

No
Konsep
Atribut
Posisi
Contoh
Non
contoh
Label
Jenis
Defenisi
Kritis
Variabel
Super
ordinat
Koor-dinat
Sub
ordinat
1
Temperatur
Abstrak
Derajat panas dingin-nya suatu benda

Kalor, pemu-aian
Kerja
Energi, kalor
Volu-me, tekan-an
Kecepatan partikel
Suhu tubuh
Peruba-han wujud
Contoh menganalisis konsep dalam konsep-konsep fisika :

Topik                     :    Suhu dan Kalor
Jenjang                  :    SMA
Kelas/Semester    :    X / Satu

Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Menganalisis Konsep
1. Konsep yang hadir tanpa masalah
Konsep yang hadir tanpa masalah merupakan konsep dengan kejadian yang jelas. Artinya konsep tersebut memiliki atribut yang jelas, contoh dan non contoh yang mudah dipahami dan adanya kejelasan relefansi dengan konsep yang lain.
2. Konsep dengan kejadian yang tidak jelas
            Berbagai kesulitan muncul ketika kita menganalisis konsep ynag kejadiannya tidak jelas. Misalnya, atom, alam semesta dan tahun cahaya. Kesulitan dihadapi ketika akan nenentukan contoh dan non contoh (contoh dan non contohnya tidak jelas). 
        Tujuan utama analisa konsep adalah untuk menetahui permasalahan yang dihadapi siswa dalam memahami suatu konsep dan menentukan strategi pembelajaran yang sesuai untuk pengajaran konsep tersebut. Hal ini berarti bahwa ketika seorang guru akan mengajarkan konsep dengan kejadian yang tidak jelas maka ia harus mengetahui letak permasalahan yang ditimbulkan misalnya, tidak jelasnya contoh dan non contohnya. Dalam menganalisis konsep dengan kejadian yang tidak jelas, perlu diperhatikan adanya ilustrasi yang dapat menggambarkan kejadian dan dapat menjadi pengganti contoh dan non contoh dari konsep tersebut.
3. Konsep dengan atribut kritis yang tidak jelas
        ada banyak konsep yang mempunyai kejadian yang jelas tetapi tidak memiliki  atribut kritis yang jelas. Misalnya Unsur dan campuran.
4. Contoh yang memerlukan prinsip
5. Konsep dengan penyajian simbolis
            Lambang fisika merupakan konsep dengan penyajian simbolis. Masalah yang dapat digambarkan dari konsep seperti itu misalnya apakah pemahaman siswa hanya sekedar pemahaman kata ataumenerima contoh dan non contoh.
6. Konsep yang menyebutkan  proses
Penyulingan, peleburan, dan elektrolisis merupakan contoh konsep yang disertai proses
7.  Konsep yang menyebutkan atribut dan kekayaan
konsep yang seperti misalnya massa., berat beban, muatan elektrit, dan frekuensi.
8.  Konsep yang menguraikan atribut
massa merupakan contoh konsep tersebut. Sebagai contoh ton, kiligram dan gram merupakan ukuran berat/ massa. Seseorang akan berasumsi bahwa siswa memahami konsep jika ia mengetahui defenisi dan ukurannya. Bagaimanapun sebagian dari konsep ini sulit untuk diphami dan suatu analisa konsep menggambarakan apa yang harus dipahami oleh siswa tersebut


Makalah Literasi Sains


Literasi Sains
Secara harfiah literasi berasal dari “Literacy” (dari bahasa inggris) yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf. Kata sains berasal dari “Science” (dari bahasa inggris) yang berarti ilmu pengetahuan. Salah satu indikator keberhasilan siswa menguasai berpikir logis, berpikir kreatif, dan teknologi dapat dilihat dari penguasaan Literasi Sains siswa dari Program PISA.
PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka mengerti serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang terjadi pada alam sebagai akibat manusia (Witte, 2003). Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan alam. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warganegara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan teknologis
Komponen dan Aspek-aspek dalam Literasi Sain
Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains,yaitu:
a. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
b. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.   
c. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.    
d. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
e. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.
Pengukuran Literacy Science
PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya, yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengi-denifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti             yang     ada.                 
Pendekatan Keterampilan Proses
·        Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan- keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan- kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa (DEPDIKBUD, dalam Moedjiono, 1992/ 1993 : 14)
Suatu prinsip untuk memilih pendekatan pembelajaran ialah belajar melalui proses mengalami secara langsung untuk memperoleh hasil belajar yang bermakna. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Siswa diharapkan termotivasi dan senang melakukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna bagi dirinya. Hal ini berarti bahwa peranan pendekatan belajar mengajar sangat penting dalam kaitannnya dengan keberhasilan belajar. Kurikulum 2004 telah menegaskan bahwa penerapan pendekatan dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri siswa supaya mampu menemukan dan mengelola perolehannya. Pendekatan ini disebut pendekatan proses. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan ini mengacu kepada siswa agar belajar berorientasi pada belajar bagaimana belajar.
Beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar yaitu :
a.    Perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung begitu cepat sehingga tidak mungkin lagi seorang guru memberikan semua fakta dan konsep kepada siswa.
b.    Pada prinsipnya anak mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk belajar. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu.
c.    Semua konsep yang telah ditemukan melalui penyelidikan ilmiah tidak bersifat mutlak sehingga masih terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan diperbaiki.
d.    Adanya sikap dan nilai-nilai yang perlu dikembangkan.
(Conny Semiawan, 1992: 14)
·        Rincian Keterampilan Proses
Keterampilan proses dasar merupakan suatu fondasi untuk melatih keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Seluruh keterampilan proses ini diperlukan pada saat berupaya untuk mencatatkan masalah ilmiah. Keterampilan proses terpadu khususnya diperlukan saat melakukan eksperimen untuk memecahkan masalah.
1.      Pengamatan
Pengamatan merupakan salah satu keterampilan proses dasar.Keterampilan   menggunakan lima indera yaitu penglihatan, pembau, peraba, pengecap dan pendengar. Apabila siswa mendapatkan kemampuan melakukan pengamatan  dengan menggunakan beberapa indera, maka kesadaran dan kepekaan mereka terhadap segala hal disekitarnya akan berkembang, pengamatan yang dilakukan hanya menggunakan indera disebut  pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur disebut pengamatan kuantitatif. Melatih keterampilan pengamatan termasuk melatih siswa mengidentifikasi indera mana yang tepat digunakan untuk melakukan pengamatan suatu objek.

2.      Klasifikasi  
Klaslifikasi adalah proses yang digunakan ilmuwan untuk mengadakan penyusunan atau pengelompokkan atas objek-objek atau kejadian-kejadian. Keterampilan klasifikasi dapat dikuasai bila siswa telah dapat melakukan dua keterampilan berikut ini.
a.       Mengidentifikasi dan memberi nama sifat-sifat yanng dapat diamati dari   sekelompok objek yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasi.
b.      Menyusun klasifikasi dalam tingkat-tingkat tertentu sesuai dengan sifat-sifat objek
Klasifikasi berguna untuk melatih siswa menunjukkan persamaan, perbedaan dan hubungan timbal baliknya.


3.      Inferensi
Inferensi adalah sebuah pernyataan yang dibuat berdasarkan fakta hasil pengamatan. Hasil inferensi dikemukakan sebagai pendapat seseorang terhadap sesuatu yang diamatinya. Pola pembelajaran untuk melatih keterampilan proses inferensi, sebaiknya menggunakan  teori belajar konstruktivisme, sehingga siswa belajar merumuskan sendiri inferensinya.

4.      Prediksi
Prediksi adalah ramalan tentang kejadian yang dapat diamati diwaktu yang akan datang. Prediksi didasarkan pada observasi yang cermat  dan inferensi tentang hubungan antara beberapa kejadian yang telah diobservasi. Perbedaan inferensi dan prediksi yaitu : Inferensi harus didukung oleh fakta hasil observasi, sedangkan prediksi dilakukan dengan meramalkan apa yang akan terjadi kemudian berdasarkan data pada saat pengamatan dilakukan.

5.      Komunikasi
Komunikasi didalam keterampilan proses berarti menyampaikan pendapat hasil keterampilan proses lainnya baik secara lisan maupun tulisan.  Dalam tulisan bisa berbentuk rangkuman, grafik, tabel, gambar, poster dan sebagainya. Keterampilan berkomunikasi ini sebaiknya selalu dicoba di kelas, agar siswa terbiasa mengemukakan pendapat dan berani tampil di depan umum.

6.      Identifikasi Variabel
Variabel adalah satuan besaran kualitatif atau kuantitatif yang dapat bervariasi atau berubah pada suatu situasi tertentu.  Besaran kualitatif adalah besaran yang tidak dinyatakan dalam satuan pengukuran baku tertentu.  Besaran kuantitatif  adalah besaran yang dinyatakan dalam satuan pengukuran baku tertentu misalnya volume diukur dalam liter dan suhu diukur dalam derajat Celcius. Keterampilan identifikasi variabel dapat diukur berdasarkan tiga tujuan
pembelajaran berikut.
a.       Mengidentifikasi variabel dari suatu pernyataan tertulis atau dari deskripsi suatu eksperimen.
b.      Mengidentifikasi variabel manipulasi dan variabel respon dari deskripsi suatu eksperimen.
c.       Mengidentifikasi variabel kontrol dari suatu pernyataan tertulis atau deskripsi suatu eksperimen.

Dalam suatu eksperimen terdapat tiga macam variabel yang sama pentingnya, yaitu variabel manipulasi, variabel respon dan variabel kontrol.
         Variabel manipulasi adalah suatu variabel yang secara sengaja diubah atau dimanipulasi dalam suatu situasi.
         Variabel respon adalah variabel yang berubah sebagai hasil akibat dari kegiatan manipulasi.
         Variabel kontrol  adalah variabel yang sengaja dipertahankan konstan agar tidak berpengaruh terhadap variabel respon.

7.      Definisi Variabel Secara Operasional
Mendefinisikan secara operasional suatu variabel berarti menetapkan bagaimana suatu variabel itu diukur. Definisi operasional variabel adalah definisi yang menguraikan bagaimana mengukur suatu variabel. Definisi ini harus menyatakan tindakan apa yang akan dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat dari suatu eksperimen. Keterampilan ini merupakan komponen  keterampilan proses yang paling sulit dilatihkan karena itu harus sering di ulang-ulang.

8.      Hipotesis
Hipotesis biasanya dibuat pada suatu perencanaan penelitian yang merupakan pekerjaan tentang pengaruh yang akan terjadi dari variabel manipulasi terdapat  variabel respon. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan bukan pertanyaan, pertanyaan biasanya digunakan dalam merumuskan masalah yang akan diteliti (Nur, 1996). Hipotesis dapat dirumuskan secara  induktif  dan secara  deduktif.  Perumusan secara induktif berdasarkan data pengamatan, secara deduktif berdasarkan teori. Hipotesis dapat juga dipandang sebagai jawaban sementara dari rumusan masalah.

9.      Interpretasi Data
Keterampilan interpretasi data biasanya diawali dengan pengumpulan data, analisis data, dan  mendeskripsikan data. Mendeskripsikan data artinya menyajikan data dalam bentuk yang mudah difahami misalnya bentuk tabel, grafik dengan angka-angka yang sudah dirata-ratakan. Data yang sudah dianalisis baru diiterpretasikan menjadi suatu kesimpulan atau dalam bentuk pernyataan. Data yang diinterpretasikan harus data yang membentuk pola atau beberapa kecenderungan.

10.  Eksperimen
Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variabel yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharapkan dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga penentuan kondisi-kondisi yang akan dikontrol sudah tepat. Untuk keberhasilan ini maka setiap eksperimen harus dirancang dulu kemudian di uji coba. Melatihkan merencanakan eksperimen tidak harus selalu dalam bentuk penelitian yang rumit, tetapi cukup dilatihkan dengan menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan konsep-konsep didalam GBPP, kecuali untuk melatih khusus siswa-siswa dalam kelompok tertentu. Contohnya Kelompok Ilmiah Remaja.

1.      Implikasi Keterampilan Proses dalam Proses Pembelajaran
Adapun implikasi yang timbul dari diterapkannya pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar diantaranya adalah (bagi siswa) :
a)             Memperoleh pengalaman melalui keterampilan proses sains seperti identifikasi, seleksi, dan pemecahan masalah nyata secara bermakna dan relevan dengan masalah-masalah yang ditemuinya.
b)         Mempelajari dan memperdalam konsep-konsep dasar dengan bermakna
c)         Memanipulasikan informasi yang diperoleh
d)         Mengembangkan keterampilan berpikir tinggi
e)         Mengembangkan metodologi dengan menggunakan perangkat penelitian
f) Menumbuhkan minat dan kepercayaan diri melalui Problem Solving
g)         Mempelajari bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dan diciptakan.
Sedangkan sikap guru seharusnya :
a)         Memfasilitasi minat siswa seluas mungkin
b)        Mengembangkan sistem kurikulum terpadu/interdisipliner
c)         Meresapkan keterampilan berpikir tinggi ke dalam kurikulum
d)        Menumbuhkan jiwa sosialisasi dan organisasi melalui pembentukan group-group kecil yang mandiri
e)         Menanamkan pemahaman akan keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, teknologi, dan sosial kemasyarakatan dengan memfokuskan perhatian pada masalah-masalah nyata dan relevan dengan masalah yang ditemuinya.
f)          Melibatkan siswa secara aktif selama belajar-mengajarnya.
g)         Memberi kredit kepada pertanyaan siswa
h)         Memberi kesempatan siswa untuk memilih dan menetapkan berbagai metodologi penelitiannya selama belajarnya.
i)           Memupuk keterampilan seperti proses, sosial, kepemimpinan, tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan komunikasi.
2.      Peran Guru dan Siswa dalam Pendekatan Keterampilan Proses
Adapun peran guru dalam pendekatan keterampilan proses diantaranya
1.      Memfasilitasi kemungkinan pilihan area/bidang studi/kajian
2.      Menciptakan iklim yang mendukung
3.      Menciptakan situasi yang dapat memudahkan munculnya pertanyaan
4.      Menciptakan dan mengarahkan kegiatan brainstrorming
5.      Melakukan Record Keeping
6.      Menumbuhkan dan mempertahankan situasi dan kondisi lingkungan yang dihasilkan atas dasar interest siswa (Non-Judgmental)
7.      Membantu dalam pengelompokan dan penjelasan permasalahan yang muncul.
8.      Menyediakan petunjuk tentang keamanan dan waktu bekerja, dan sumber yang dapat digunakan.
9.      Mengajukan pertanyaan untuk membantu memperjelas observasi siswa, membantu memperjelas arah dan logika berpikir siswa.
10.  Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir
11.  Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide/pendapat/gagasan siswa tersebut.
12.  Menyediakan daftar ketentuan penggunaan alat dan teknik yang baru
13.  Membantu mengembangkan metode pengumpulan data, pencatatan, interpretasi, penayangan, dan penggunaan dari teknologi yang masih dianggap kompleks oleh siswa.
14.  Menyediakan petunjuk tentang keamanan dan waktu bekerja, dan sumber yang dapat digunakan.
15.  Mengajukan pertanyaan untuk membantu memperjelas observasi siswa, membantu memperjelas arah dan logika berpikir siswa.
16.  Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir
17.  Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan dengan ide/pendapat/gagasan siswa tersebut.
18.  Menyediakan daftar ketentuan penggunaan alat dan teknik yang baru
19.  Membantu mengembangkan metode pengumpulan data, pencatatan, interpretasi, penayangan, dan penggunaan dari teknologi yang masih dianggap kompleks oleh siswa
20.  Mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi
21.  Mendefinisikan dan menetapkan informasi yang dipandang sesuai dengan audiens
22.  Menyediakan ketentuan dalam analisis data dan teknik penayangannya.
23.  Menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi
24.  Menekankan terciptanya situasi yang mendukung
25.  Memfasilitasi kemungkinan terjadinya interaksi antara presenter dengan audiens
26.  Membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil penemuan studi selama presentasi, baik secara lisan maupun tulisan.